Strategi Media Sosial untuk Kampanye Edukasi Disleksia bagi Orang Tua dan Guru Anak Usia 13-16
Main Article Content
Abstract
Disleksia merupakan gangguan belajar yang berkaitan dengan kesulitan membaca, menulis, dan mengeja, meskipun anak penyandang disleksia memiliki tingkat kecerdasan yang normal. Kurangnya pemahaman masyarakat mengenai isu disleksia ini sering kali menimbulkan stigma negatif terhadap anak penyandang disleksia, seperti anggapan bahwa mereka malas atau kurang cerdas. Kondisi ini menunjukkan pentingnya upaya edukasi yang lebih luas kepada masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi media sosial sebagai sarana kampanye edukasi disleksia bagi orang tua dan guru anak usia 13-16 tahun. Penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed methods) yang menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara dengan psikolog dan psikolog anak, sedangkan data kuantitatif diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada 102 responden yang terdiri dari orang tua dan guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat mengenai disleksia masih belum merata dan masih terdapat persepsi yang kurang tepat terkait karakteristik anak disleksia. Media sosial diketahui menjadi sumber informasi utama bagi masyarakat dan dinilai efektif sebagai media kampanye edukasi disleksia. Strategi konten meliputi penggunaan bahasa yang sederhana dan komunikatif, penyajian konten audiovisual seperti video penjelasan singkat, desain visual yang ramah dan menarik, serta pemanfaatan hashtag untuk memperluas jangkauan informasi. Selain itu, model AISAS (Attention, Interest, Search, Action, Share) dapat digunakan sebagai kerangka strategi dalam merancang kampanye edukasi disleksia di media sosial. Dengan strategi komunikasi dan visual yang tepat, media sosial berpotensi menjadi media kampanye edukasi yang efektif untuk meningkatkan pemahaman masyarakat sekaligus mengurangi stigma terhadap anak penyandang disleksia.
Downloads
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
References
Anwar, A. S., Leo, K., Ruswandi, U., & Erihadiana, M. (2022). Internalisasi nilai-nilai moderasi beragama abad 21 melalui media sosial. JIIP: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 5(8), 3044–3052. https://doi.org/10.54371/jiip.v5i8.795
Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2018). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches. Thousand Oaks, CA: SAGE Publications, Inc.
Dewi, K. Y. F. (2020). Disleksia dan anatomi otak. Disleksia dan Anatomi Otak, 7(1).
Faizin, I. (2020). Strategi guru dalam penanganan kesulitan belajar disleksia. Empati: Jurnal Bimbingan dan Konseling, 7(1). https://doi.org/10.26877/empati.v7i1.5632
Fitriani, Y. (2021). Pemanfaatan media sosial sebagai media penyajian konten edukasi atau pembelajaran digital. Journal of Information System, Applied, Management, Accounting and Research, 5(4), 1006–1013.
Mukhtar, R. N., & Bahasa dan Sastra, P. (2024). Language and literature: Kemampuan keterampilan membaca anak dengan tingkat keparahan disleksia berat siswa SMP Makassar Mulya (studi kasus). Retrieved from https://journal.unm.ac.id/index.php/SILALE
Pandiangan, K. A., & Selian, S. N. (2025). Pola asuh orang tua dan strategi guru dalam mendukung anak disleksia. Jejak Digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 1(4), 1891–1906.
Rachmad, Y. E., Rahman, A., Judijanto, L., Pudjiarti, E. S., Runtunuwu, P. C. H., Lestari, N. E., & Mintarsih, M. (2024). Integrasi metode kuantitatif dan kualitatif: Panduan praktis penelitian campuran. Jakarta: PT Green Pustaka Indonesia.
Suminar, D. (2019). Penerapan teknologi sebagai media pembelajaran pada mata pelajaran sosiologi. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan FKIP, 2(1), 774–783.
Wibowo, M. R., & Setiaji, H. (2020). Perancangan website bisnis Thrifdoor menggunakan metode pendekatan design thinking. Kaos GL Dergisi, 8(75).