Efektivitas Program Bantuan Sarana dan Prasarana Tambak terhadap Peningkatan Pendapatan Petambak di Kabupaten Lamongan
Main Article Content
Abstract
Distribusi infrastruktur perikanan tambak udang di Lamongan menghadapi kendala komunikasi (60% tidak efektif), keterlambatan infrastruktur selama 45 hari, dan rendahnya akurasi target. Hal ini mengancam pencapaian SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) dan SDG 14 (Ekosistem Laut) akibat penggunaan berlebih pupuk kimia Urea (250 kg/ha) yang merusak ekosistem mangrove dengan kadar amonia mencapai 7,2 mg/L. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas Kebijakan Pupuk Bersubsidi tahun 2026 menggunakan Model Edward III serta mengusulkan Kerangka Kerja SDG Ganda (*Dual SDG Framework*). Metode deskriptif kualitatif digunakan dengan triangulasi data yang mencakup wawancara terhadap 15 penyuluh, observasi kios pupuk di wilayah Turi-Sukorejo, dan analisis dokumen SAKIP Dinas Perikanan Lamongan tahun 2023-2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi satu arah gagal menjangkau 60% petani, koordinasi yang lemah menyebabkan keterlambatan 45 hari, verifikasi manual tidak dapat melayani 23 ribu petani, serta keempat variabel Edward III menunjukkan tingkat efektivitas di bawah 70%, sementara 30% tambak mengalami kerusakan akibat eutrofikasi. Solusi inovatif yang diusulkan meliputi Platform Hibrida iPubers (cakupan komunikasi 95%), Pupuk Presisi 2026 (Urea 176 kg/ha + pupuk organik 20%), Satuan Tugas Antar-Lembaga (batas keterlambatan maksimal 30 hari), dan Koperasi Udang Premium (peningkatan harga jual 25-30%). Implementasi bertahap pada periode 2026-2027 akan menjadikan Lamongan sebagai cetak biru nasional bagi akuakultur berkelanjutan untuk 127 kabupaten sentra udang, sekaligus mempercepat pencapaian SDG 1 dan SDG 14 pada tahun 2030.
Downloads
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.