Nuansa Eksistensial melalui Diksi Konotatif dalam Cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan
Main Article Content
Abstract
Kajian ini memusatkan perhatian pada analisis makna konotatif yang melekat pada pilihan kata (diksi) dalam cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan karya Umar Kayam, serta penelusuran bagaimana makna-makna tersebut secara kolektif membentuk nuansa eksistensial yang menyelimuti keseluruhan narasi. Penelitian bersifat kualitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan semantik dan kritik sastra. Teori makna konotatif Geoffrey Leech menjadi landasan utama dalam mengidentifikasi dimensi konotatif diksi, sementara kerangka semantik Abdul Chaer digunakan untuk memetakan relasi makna dalam konteks budaya dan sosial. Adapun pembacaan eksistensial bertumpu pada pemikiran Jean-Paul Sartre dan Albert Camus yang kemudian dikontekstualisasikan dalam perspektif kajian fiksi Burhan Nurgiyantoro. Hasil analisis menunjukkan bahwa diksi-diksi sentral seperti kunang-kunang, Manhattan, malam, cahaya, dan diam memuat lapisan makna konotatif yang jauh melampaui denotasinya. Makna-makna ini secara konsisten menghadirkan tema kesepian, keterasingan eksistensial, rapuhnya relasi antarmanusia, dan pencarian makna dalam kekosongan. Cerpen Umar Kayam terbukti memanfaatkan kekuatan diksi bukan sekadar sebagai ornamen estetis, melainkan sebagai instrumen ideologis yang mengejawantahkan krisis eksistensial manusia modern. Penelitian ini diharapkan memberi sumbangsih bagi pengembangan kritik sastra semantik-eksistensial di Indonesia.
Downloads
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
References
Anoegrajekti, N. (2010). Etnografi Sastra Using: Ruang Negosiasi dan Pertarungan Identitas. ATAVISME, 13(2), 137–148. https://doi.org/10.24257/atavisme.v13i2.125.137-148
Cavalcanti, S. (2024). Disease and Creativity in the Diasporic City: A Gendered View on Two Atypical Transnational Novels. Humanities, 13(3), 88. https://doi.org/10.3390/h13030088
Chaer A. (2021). LINGUISTIKUMUMrev (Edisi Revisi). Rineka Cipta.
Dionisius Kasa Taek. (2023). The Analysis of Semantic Meaning Found in Seven Poems by Sapardi Djoko Damono. PRAGMATICA : Journal of Linguistics and Literature, 1(2), 84–89. https://doi.org/10.60153/pragmatica.v1i2.33
Handayani, N., & Usiono, U. (2025). Studi Literature Riview: Pengaruh Diksi terhadap Gaya Bahasa dalam Karya Sastra. Alahyan Jurnal Pengabdian Masyarakat Multidisiplin, 3(1), 39–48. https://doi.org/10.61492/ecos-preneurs.v3i1.253
Hayati, Z., Harahap, R. M. N. A., Faulandi, Y., Hayatullah, H., & Purwarno, P. (2024). Exploring Human-Nature Dynamics in Yacinta Kurniasih’s Poem, Aku, Hutan Jati, dan Indonesia. International Journal of English and Applied Linguistics (IJEAL), 4(1), 88–96. https://doi.org/10.47709/ijeal.v4i1.3762
Juprinedi, J., Siahaan, A. U., & Miranto, C. (2020). ANALISIS MAKNA DENOTATIF DAN KONOTATIF DALAM FILM UPIN & IPIN EPISODE KENANGAN MENGUSIK JIWA. JOURNAL OF DIGITAL EDUCATION, COMMUNICATION, AND ARTS (DECA), 3(01), 1–17. https://doi.org/10.30871/deca.v3i01.1986
Kayam, U. (1972). Seribu Kunang-Kunang di Manhattan.
Leitch, V. B. (2021). The Norton Anthology of Theory and Criticism SECOND EDITION (Second Edition). W. W. Norton & Company.
Mangunsong, T. A. M., & Diliana, E. (2023). Kajian Unsur-unsur Semantik pada Cerpen Sepotong Senja untuk Pacarku Karya Seno Gumira Ajidarma 2023. YASIN, 3(2), 359–371. https://doi.org/10.58578/yasin.v3i2.1569
Moleong, L. J. (2021). METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF (Edisi Revisi). Remaja Rosadakarya. http://penerbitzaini.com
Nugroho, H., & Patrio, A. N. (2025). Pembentukan Identitas Budaya melalui Kepakaran Artistik dalam Film dan Televisi sebagai Sarana Representasi Sosial dalam Masyarakat. Jurnal Riset Rumpun Seni, Desain dan Media, 4(2), 218–230. https://doi.org/10.55606/jurrsendem.v4i2.6727
Nurgazina, A., Zhuravleva, Y., Yessimseitov, B., Shakaman, Y., Nurzhanova, Z., & Karipzhanova, A. (2026). Cultural-Connotative Meaning in the Semantic Structure of Words in Different Languages, Its Types and Methods of Representation. Forum for Linguistic Studies, 7(12). https://doi.org/10.30564/fls.v7i12.11948
Pardoe, L., & Arps, A. (2023). Translation, Memory, and Ongoing Coloniality: Reading Gentayangan for a More Worldly Dutch Studies. Dutch Crossing, 47(1), 49–62. https://doi.org/10.1080/03096564.2022.2144598
Prokofyeva, D. V. (2025). The Problem of Existential Estrangement and Ways of Its Overcoming. Discourse, 11(4), 28–37. https://doi.org/10.32603/2412-8562-2025-11-4-28-37
Sastre. (2017). ‘Existentialism Is a Humanism.’ Dalam Sartre and Theology (hlm. 117–124). Bloomsbury Publishing Plc. https://doi.org/10.5040/9780567665669.ch-005
Sosnovskaya, N. A. (2024). he role of existential reading in modern reader’s practices. Modern Problems of Book Culture: Main Tendencies and Prospects: Proceedings of the 17th Belarusian-Russian Scientific Conference, 562–567. https://doi.org/10.52929/9785605111078_562
Starks, A. (2024). Short stories as moral education: the relationship between psychological realism and imagination [Northeastern University]. https://doi.org/10.17760/D20662867
Sugiyanti, N. E. (2023). ANALISIS NOVEL BEKISAR MERAH KARYA AHMAD TOHARI DITINJAU DARI HUBUNGAN ANTARA SASTRAWAN, SASTRA DAN MASYARAKAT DALAM FUNGSI SOSIAL MASYARAKAT. Prosiding Simposium Nasional Multidisiplin (SinaMu), 4, 46. https://doi.org/10.31000/sinamu.v4i1.7870
Sugiyono. (2021). METODE PENELITIAN KUANTITATIF. Alfabeta.
Vaškovic, P., & Vičanová, G. (2024). Anxiety, Hope and Meaning in Times of Ecological Crisis: An Existential-Phenomenological Perspective on Environmental Emotions. Human Studies, 47(4), 771–791. https://doi.org/10.1007/s10746-024-09728-3
Wahidah, F. (2021). KONFLIK SOSIAL DAN POLITIK DALAM KUMPULAN CERPEN DRAMA ITU BERKISAH TERLALU JAUH KARYA PUTHUT EA: KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA. Buana Bastra, 5(1), 10–17. https://doi.org/10.36456/bastra.vol5.no1.a3574
Winarsih, K., Priyadi, T., & Wartiningsih, A. (2022). NILAI-NILAI BUDAYA DALAM ANTOLOGI KUNANG-KUNANG CERITA RAKYAT SELAKAU TIMUR. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa (JPPK), 11(2). https://doi.org/10.26418/jppk.v11i2.52996
Xu, X. (2025). The Unity of the Limits — On Wittgenstein’s Self, Language and Ethical Will. Communications in Humanities Research, 91(1), 184–192. https://doi.org/10.54254/2753-7064/2025.NS29532
Yunira, S., Pradina, S., Sumbayak, M., Putri, N. S., & Derin, T. (2019). Re-Visits the Grand Theory of Geoffrey Leech: Seven Types of Meaning. REiLA: Journal of Research and Innovation in Language, 1(3), 95–100. https://doi.org/10.31849/reila.v1i3.3577