Dirupsi Penghidupan: Dampak Ekonomi Politik Sengketa Lahan di Bara-Baraya Makassar

Main Article Content

M Yusrifar
Hulwana Ahsyani
Bayu Adrian Prawira

Abstract

Sengketa tanah di kawasan perkotaan sering kali dipandang sebatas kontestasi klaim hukum formal dan nilai ganti rugi material, sehingga mengabaikan dampak psikososial yang dialami oleh warga terdampak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana ancaman penggusuran bekerja sebagai stresor lingkungan kronis (chronic environmental stressor) yang memicu disrupsi mata pencaharian (livelihood) serta meruntuhkan kesejahteraan hidup (well-being) warga di Kelurahan Bara-Baraya, Kota Makassar. Menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan pisau analisis ekonomi politik perkotaan dan psikologi lingkungan, data primer dihimpun melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif terhadap warga terdampak, pendamping komunitas, dan aktivis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ancaman penggusuran berkepanjangan menciptakan kecemasan kronis, trauma kolektif, dan hilangnya sense of control akibat rusaknya keterikatan tempat (place attachment). Tekanan psikologis ini berimplikasi langsung pada kelumpuhan pengambilan keputusan ekonomi (economic decision-making paralysis), di mana pelaku usaha mikro enggan melakukan akumulasi modal dan perbaikan usaha. Di samping itu, kelelahan mental menurunkan kapasitas kognitif serta produktivitas buruh harian, sekaligus mengikis modal sosial (social capital) yang selama ini menjadi jaring pengaman informal komunitas. Kumulasi dari ketegangan psikis dan kelumpuhan ekonomi harian ini bermuara pada kemerosotan kesejahteraan hidup secara multidimensional, yang termanifestasi dalam bentuk timbulnya penyakit psikosomatis, meningkatnya beban pengeluaran medis, hingga keterjeratan warga dalam kemiskinan struktural baru (new urban poverty). Penelitian ini menyimpulkan pentingnya pergeseran paradigma penataan ruang perkotaan di Kota Makassar menuju pemenuhan keadilan spasial (spatial justice) yang memprioritaskan kepastian hak atas tanah dan perlindungan psikososial masyarakat kelas bawah.

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

How to Cite
Yusrifar, M., Ahsyani, H., & Prawira, B. A. (2026). Dirupsi Penghidupan: Dampak Ekonomi Politik Sengketa Lahan di Bara-Baraya Makassar. ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 5(12), 9431–9439. https://doi.org/10.56799/jim.v5i12.21899
Section
Articles
Author Biographies

Hulwana Ahsyani, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Indonesia

Saya sebagai mahasiswa prodi Ilmu Ekonomi

Bayu Adrian Prawira, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Indonesia

Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi

References

Afrizal, A., & Haris, A. (2020). Dampak sosial ekonomi sengketa tanah permukiman terhadap masyarakat perkotaan. Jurnal Sosiologi Perkotaan, 12(2), 115–130.

Astuti, R., & Wibowo, S. (2021). Perampasan ruang hidup dan ketahanan ekonomi masyarakat berpenghasilan rendah di kawasan perkotaan padat. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia, 21(1), 45–60.

Batubara, B., & Rachman, N. F. (2022). Urban land grabbing and the production of space in Indonesian cities. Journal of Peasant Studies, 49(3), 512–534.

Desmond, M., & Kimbro, R. T. (2015). Eviction's fallout: Housing, hardship, and health in five cities. Social Forces, 94(1), 295–324.

Fadhil, M., & Rachman, N. F. (2019). Dinamika konflik pertanahan dan dampaknya terhadap kerentanan sosial-ekonomi warga perkotaan. Jurnal Analisis Sosial, 23(1), 77–96.

Gilbert, A. (2007). The return of the slum: Does language matter? International Journal of Urban and Regional Research, 31(4), 697–713.

Kurniawan, A., & Setiawan, B. (2018). Stres lingkungan dan kecemasan masyarakat akibat ketidakpastian hunian di pusat kota. Jurnal Psikologi Lingkungan dan Perkotaan, 5(2), 88–102.

Mani, A., Mullainathan, S., Shafir, E., & Zhao, J. (2013). Poverty impedes cognitive function. Science, 341(6149), 976–980.

Moser, C. O. (1998). The asset vulnerability framework: Reassessing urban poverty reduction strategies. World Development, 26(1), 1–19.

JURNAL(2).docx

Prasetyo, D., & Utami, T. (2022). Akses keadilan spasial dan komodifikasi tanah perkotaan di Indonesia. Jurnal Hukum Agraria dan Lingkungan, 8(3), 201–218.

Santoso, E., & Wardani, K. (2019). Pengaruh konflik agraria perkotaan terhadap kesehatan mental dan penyakit psikosomatis warga. Jurnal Kesehatan Masyarakat Perkotaan, 7(1), 50–64.

Smith, N. (1979). Toward a theory of gentrification: A back to the city movement by capital, not people. Journal of the American Planning Association, 45(4), 538–548.

JURNAL(2).docx

Suryahadi, A., Suryadarma, D., & Sumarto, S. (2012). The effects of location and sectoral components of economic growth on poverty: Evidence from Indonesia. Journal of Development Economics, 98(2), 209–217.

Woolcock, M., & Narayan, D. (2000). Social capital: Implications for development theory, research, and policy. The World Bank Research Observer, 15(2), 225–249.

Xu, K., Evans, D. B., Kawabata, K., Zeramdini, R., Klavus, J., & Murray, C. J. (2003). Household catastrophic health expenditure: A multicountry analysis. The Lancet, 362(9378), 111–117.

JURNAL(2).docx

Yusuf, M., & Nurhadi, N. (2022). Konflik pertanahan dan pembentukan kemiskinan perkotaan baru di Kota Makassar. Jurnal Ekonomi Politik Perkotaan, 9(2), 140–155.