Hubungan Stres Kerja Dengan Burnout Pada Anggota Polri Satuan Kerja Dittahti Dan Reskrimum Polda Gorontalo
Main Article Content
Abstract
Tingginya tuntutan pekerjaan pada profesi kepolisian, seperti tekanan waktu, sistem kerja bergilir, tanggung jawab operasional , serta risiko kerja yang tinggi, berpotensi menimbulkan stres kerja yang dapat berkembang menjadi burnout. Kondisi tersebut berisiko dialami oleh anggota Polri yang betugas pada satuan kerja Direktorat Tahanan dan Barang Bukti (Dittahti) dan Reserse Kriminal Umum (Reskrimum) Polda Gorontalo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan stres kerja dengan burnout pada anggota Polri satuan kerja Dittahti dan Reskrimum Polda Gorontalo. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif korelasional. Populasi penelitian berjumlah responden sebanyak 115 anggota Polri yang dipilih menggunakan total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Job Stress Scale (JSS) yang dikembangkan oleh Parker dan DeCotiis (1983) untuk mengukur stres kerja dan Maslach Burnout Inventory (MBI) yang dikembangkan oleh Maslach & Jackson (1981) untuk mengukur burnout. Hasil uji reliabilitas menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha ebesar 0.889 pada variabel stres kerja dan 0.946 pada variabel burnout, sehingga kedua instrumen dinyatakan reliabel. Analisis data menggunakan uji Korelasi Pearson product moment menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar r = 0.773 dengan signifikansi p = 0.000 (p<0.05). Hasil tersebut menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara stres kerja dan burnout. Selain itu, nilai koefisien determinasi (r²) sebesar 0.597 menunjukkan bahwa stres kerja memberikan kontribusi sebesar 59.7% terhadap burnout, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa peningkatan stres kerja cenderung diikuti oleh peningkatan tingkat burnout pada anggota Polri.
Downloads
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.