Respon Emosional Anak Terhadap Pembatasan Gawai: Pentingnya Pendidikan Keluarga
Main Article Content
Abstract
Penggunaan media sosial dan gawai yang masif di kalangan anak usia dini mendorong pemerintah memberlakukan kebijakan pembatasan akses digital. Namun, dampak psikologis kebijakan tersebut terhadap respons emosional anak dalam konteks pendidikan keluarga belum banyak dikaji. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bentuk-bentuk respons emosional anak usia 3–7 tahun akibat pembatasan media sosial serta mengkaji peran pendidikan keluarga sebagai strategi preventif. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi deskriptif dengan teknik purposive sampling terhadap lima informan orang tua.. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi visual, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil menunjukkan respons emosional anak terbagi dalam tiga kategori: ringan (merajuk, cepat teralihkan), sedang (menangis, marah singkat), dan berat (tantrum berkepanjangan), yang dipengaruhi oleh usia pengenalan gawai, motif pemberian, pengaruh teman sebaya, dan temperamen anak. Penelitian mengidentifikasi tiga pola pendidikan keluarga secara induktif: Proaktif-Terstruktur, Reaktif-Situasional, dan Permisif-Adaptif. Temuan ini menghasilkan Model Segitiga Regulasi Digital Keluarga (SRDK) yang menegaskan bahwa efektivitas kebijakan pembatasan gawai sangat bergantung pada kualitas pendidikan keluarga sebagai mediator utama.
Downloads
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.