Modal Sosial sebagai Mekanisme Keberlanjutan Komunitas: Studi Kasus Sanggar Sunda Pratama
Main Article Content
Abstract
Komunitas seni tradisional menghadapi tantangan dalam mempertahankan keberlanjutan mereka di tengah perubahan sosial. Studi ini bertujuan menganalisis dimensi modal sosial bonding, bridging, dan linking sebagai aset komunitas dalam mendukung keberlanjutan Sanggar Sunda Pratama. Memahami cara dimensi-dimensi ini bekerja dalam konteks komunitas seni tradisional diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan strategi penguatan komunitas berbasis aset. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan lima informan dan analisis data melibatkan pengumpulan data, pengurangan data, tampilan data, dan triangulasi. Analisis penelitian ini dilakukan menggunakan kerangka modal sosial Robert Putnam yang diperluas dengan konsep Michael Woolcock dan ditempatkan dalam kerangka Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (ABCD). Hasilnya menunjukkan bahwa modal sosial memiliki peran penting dalam mempertahankan komunitas, meskipun kontribusinya tidak merata. Modal sosial bonding merupakan dimensi terkuat dalam menjaga stabilitas internal komunitas, sementara modal sosial bridging mendukung perluasan jaringan dan regenerasi anggota. Sebaliknya, modal sosial linking tetap lemah karena akses institusional yang terbatas dan bergantung pada satu sosok penghubung. Oleh karena itu, memperkuat kapasitas kelembagaan dan memperluas kemitraan diperlukan untuk mendukung keberlanjutan jangka panjang komunitas seni tradisional.
Downloads
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.