Orientasi Masa Depan Remaja di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Palembang: Studi Kasus pada Pelaku Tindak Pidana Pembunuhan

Main Article Content

Chaterine Imelga Destriyanti
Mutia Mawardah

Abstract

Masa remaja merupakan periode penting bagi pembentukan orientasi masa depan (OMD), yaitu cara pandang individu dalam memikirkan, merencanakan, dan mengevaluasi tujuan hidupnya. Keterlibatan remaja dalam tindak pidana berat seperti pembunuhan menempatkan mereka dalam situasi khusus, yaitu menjalani pembinaan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) yang membatasi kebebasan, memutus relasi sosial, dan berpotensi mengaburkan arah masa depan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran orientasi masa depan remaja pelaku pembunuhan yang menjalani pembinaan di LPKA Kelas I Palembang serta memahami proses pemaknaan diri dan harapan masa depan pascatindak pidana. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus terhadap dua subjek remaja laki-laki berinisial R (21 tahun) dan TH (16 tahun) yang sama-sama terjerat kasus pembunuhan, dilengkapi empat informan tahu dan hasil tes grafis (Draw A Person, BAUM, Wartegg). Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan mengacu pada tiga aspek orientasi masa depan Nurmi, yaitu motivasi, perencanaan, dan evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua subjek tetap memiliki orientasi masa depan meskipun berada dalam keterbatasan lingkungan pembinaan. Motivasi keduanya bersumber dari keluarga, namun berorientasi berbeda: R berfokus pada tanggung jawab sebagai kepala keluarga dan kemandirian ekonomi, sedangkan TH berfokus pada penyelesaian pendidikan demi membahagiakan ibunya. Pada aspek perencanaan, R menunjukkan perencanaan jangka pendek berorientasi kerja namun rendah dalam keterlibatan aktif pembinaan, sementara TH menyusun perencanaan bertahap (sekolah-kuliah-kerja) yang lebih selaras dengan perilaku kesehariannya. Pada aspek evaluasi, R menunjukkan efikasi diri yang sangat tinggi namun kurang diimbangi kesiapan perilaku, sedangkan TH menunjukkan efikasi diri yang lebih realistis disertai kesadaran akan hambatan ekonomi keluarga. Pengalaman menjalani pembinaan di LPKA pada kedua subjek justru menjadi titik balik psikologis yang membangkitkan kembali harapan dan motivasi untuk memperbaiki arah hidup. Penelitian ini menyimpulkan bahwa orientasi masa depan remaja pelaku pembunuhan bersifat kontekstual dan dibentuk oleh interaksi antara motivasi keluarga, tahap perkembangan, tanggung jawab sosial, serta cara masing-masing individu memaknai pengalaman krisis yang dialaminya.

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

How to Cite
Destriyanti, C. I., & Mawardah, M. (2026). Orientasi Masa Depan Remaja di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Palembang: Studi Kasus pada Pelaku Tindak Pidana Pembunuhan. PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial Dan Humaniora, 5(6), 18992–19001. https://doi.org/10.56799/peshum.v5i6.21837
Section
Articles