Keterbatasan Gelombang Demokrasi dalam Perlindungan Hak Asasi Manusia di Tingkat Lokal: Studi Kasus Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang
Main Article Content
Abstract
Penelitian ini membahas keterbatasan demokrasi dalam perlindungan Hak Asasi Manusia di tingkat lokal melalui studi kasus Jemaat Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang. Penelitian bertujuan menganalisis bagaimana demokrasi lokal menghadapi intoleransi dan diskriminasi terhadap Ahmadiyah serta menjelaskan kasus Cikeusik melalui perspektif gelombang demokrasi Samuel P. Huntington. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kepustakaan terhadap jurnal ilmiah, buku, dokumen hukum, laporan lembaga HAM, dan sumber media yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus Cikeusik tidak hanya memperlihatkan kegagalan perlindungan HAM, tetapi juga gejala pelemahan demokrasi substantif: keterbukaan politik dan desentralisasi tidak diikuti kapasitas institusi lokal untuk membatasi tekanan mayoritas, menjamin kebebasan beragama, dan memberikan perlindungan hukum yang setara. Dalam kerangka Huntington, kondisi tersebut dapat dibaca sebagai gejala reverse wave pada tingkat lokal, yakni ketika capaian demokrasi prosedural tidak berkembang secara konsisten menjadi jaminan hak sipil dan perlindungan minoritas. Dengan demikian, kualitas demokrasi lokal ditentukan tidak hanya oleh tersedianya ruang partisipasi, tetapi juga oleh kemampuan negara menegakkan hak konstitusional warga secara adil tanpa tunduk pada tekanan mayoritas.
Downloads
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
References
Aula, S. K. N. (2021). Potret Diskriminasi Terhadap Kelompok Minoritas Ahmadiyah di Media Online. Jurnal Religi: Jurnal Studi Agama-Agama, 17(02), 1412–2634.
Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2017). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches. Sage publications.
Dahl, R. A. (1971). Polyarchy: Participation and opposition. Yale University Press.
Diamond, L., & Whittington, Z. (2018). 17. Social Media. In Democratization (pp. 253–266).
Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/hepl/9780198732280.003.0017
Donnelly, J. (2013). Universal human rights in theory and practice (3rd ed.). Cornell University Press.
Haggard, S., & Kaufman, R. R. (2016). Democratization During the Third Wave. In Annual Review of Political Science (Vol. 19, Issue 1, pp. 125–144). Annual Reviews. https://doi.org/10.1146/annurev-polisci-042114-015137
Ham, R., Konteks, D., & Kontemporer, I. (2025). Indonesian Journal of Law. 2(1), 258–264. Hukum, J., & Islam, P. (2024). Al-Ahkam Al-Ahkam. 6(1), 33–44.
Hasan, B., & Mursalin, A. (2011). Konflik Komunal Mengatasnamakan Agama di Indonesia: Analisis Terhadap Konflik Ahmadiyah dalam Pemberitaan Media, 2005-2011. Kontekstualita: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan, 26(1), 37103.
Huntington, S. P. (1991). The third wave: Democratization in the late twentieth century.
University of Oklahoma Press.
Ideologi, T., Di, B., & Perubahan, T. (2025). Jurnal GeoCivic. 8(2), 47–54.
Irawan, A. M., & Adnan, Z. (2021). The Ahmadiyya, Blasphemy and Religious Freedom: The Institutional Discourse Analysis of Religious Discrimination in Indonesia. Muslim World Journal of Human Rights, 18(1), 79–102. https://doi.org/10.1515/mwjhr-2020-0034
Mulyartono, S. (2014). Kekerasan anti-ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang: pendekatan mobilisasi.
Monica, A. (2023). Teologi Ahmadiyah di Indonesia Abstract ; Abstrak ; 5(2), 117–136.
Sari, W. P. (2018). Analisis Wacana Kritis Kasus Penyerangan Terhadap Jemaah Ahmadiyah di Cikeusik. Jurnal Komunikasi, 10(1), 87. https://doi.org/10.24912/jk.v10i1.1507
Sihombing, P. R. (2026). The Dynamics of Indonesian Democracy ( 2021-2024 ): A Nonparametric Comparative Analysis of Democracy Indices and Their Aspects. 3(Januari).
Wiradinata, J. I., Kudubun, E. E., & Susanti, A. T. (2025). Fenomena Labeling Kafir dan Sesat terhadap Komunitas Jemaat Ahmadiyah dan Pengaruhnya dalam Kehidupan Sosial Para Anggotanya. SOSMANIORA (Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora), 4(3), 814. https://doi.org/10.55123/sosmaniora.v4i3.6383
Buntaras, I. Y. S. I. S. A. (2021). Jemaat ahmadiyah indonesia (Issue 27).
Dayyin, D. M., & Ismail, A. Z. (2022). Analisis Fatwa MUI Tentang Pelarangan Dan Penyesatan Kepada Kelompok Ahmadiyah di Indonesia. Jurnal Iman Dan Spiritualitas, 2(4), 475–482. https://doi.org/10.15575/jis.v2i3.19213
Monica, A., Nur, A. L., Fauzi, A. M., & Sajari, D. (2023). Teologi Ahmadiyah di Indonesia. Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy, 5(2), 117. https://doi.org/10.24042/ijitp.v5i2.19754
mulyartono, siswo. (2021). KEKERASAN ANTI-AHMADIYAH DI CIKEUSIK , Skripsi.
Nur, Z., Amri, M., & Aderus, A. (2024). Ahmadiyah dalam Pusaran Sejarah: Analisis Kritis Terhadap Doktrin dan Pengaruhnya. Indo-MathEdu Intellectuals Journal, 5(3), 3861–3873. https://doi.org/10.54373/imeij.v5i3.1381
Wiradinata, J. I., Kudubun, E. E., & Susanti, A. T. (2025). Fenomena Labeling Kafir dan Sesat terhadap Komunitas Jemaat Ahmadiyah dan Pengaruhnya dalam Kehidupan Sosial Para Anggotanya. SOSMANIORA (Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora), 4(3), 814. https://doi.org/10.55123/sosmaniora.v4i3.6383
Mahpudin, (2021). Kebangkitan Politik Identitas dalam Proses Demokratisasi di Indonesia.
Hurriyah. (2020). Dynamics of shrinking religious freedom in post-reformasi Indonesia. JSEAHR, 4, 335.
Ummah, A. (2016). Ahmadiyah dan Hak atas Kebebasan Beragama di Indonesia. Jurnal Keamanan Nasional, 2(1), 59-76.
Sopyan, Y. (2016). Menyoal kebebasan beragama dan penodaan agama di Indonesia. Jurnal Cita Hukum.
Sari, W. P. (2018). Analisis wacana kritis kasus penyerangan terhadap jemaah Ahmadiyah di Cikeusik. Jurnal Komunikasi, 10(1), 87-94.
Menchik, J. (2014). Productive intolerance: Godly nationalism in Indonesia. Comparative Studies in Society and History, 56(3), 591-621.
Marzuki, S. (2019). Politik Hukum Hak Asasi Manusia Tentang Kebebasan Beragama Pasca Orde Baru. Jurnal Hukum Ius Quia Iustum, 26(2), 215-237.
Connley, A. (2016). Understanding the oppressed: A study of the Ahmadiyah and their strategies for overcoming adversity in contemporary Indonesia. Journal of Current Southeast Asian Affairs, 35(1), 29-58.