Ketika Suara Dibungkam: Kriminalisasi dan Kekerasan terhadap Aktivis dalam Kemunduran Demokrasi Indonesia

Main Article Content

Nabila Safitri
Delila Putri Sadayi
Annisa Sekar Lestari
Ardi Wijaya Putra

Abstract

Studi ini bertujuan untuk menganalisis fenomena penyempitan ruang publik di Indonesia yang ditunjukkan dengan meningkatnya praktik kriminalisasi dan kekerasan terhadap aktivis, terutama dalam kasus penyiraman air keras pada tahun 2026. Masalah ini sangat krusial karena terkait langsung dengan jaminan kebebasan berpendapat sebagai salah satu dasar utama dalam kehidupan berdemokrasi. Dalam pelaksanaannya, kebebasan tersebut tidak hanya berperan sebagai hak pribadi, tetapi juga sebagai alat pengawasan masyarakat terhadap kekuasaan. Oleh sebab itu, setiap jenis pembatasan terhadap kebebasan berpendapat berpotensi memengaruhi mutu demokrasi secara lebih keseluruhan. Studi ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka, melalui pencarian dan analisis dari berbagai sumber yang relevan, seperti jurnal ilmiah, laporan organisasi hak asasi manusia, serta dokumen kebijakan yang dirilis dalam lima tahun terakhir. Metode ini diambil untuk mendapatkan penjelasan yang lebih lengkap tentang pola kriminalisasi dan kekerasan terhadap aktivis, serta untuk mengetahui bagaimana fenomena ini dibahas dalam studi akademis dan laporan empiris.


Hasil studi mengindikasikan bahwa tindakan kriminalisasi dan kekerasan terhadap aktivis tidak terjadi secara terpisah, melainkan menciptakan pola yang berulang dan cenderung meningkat seiring berjalannya waktu. Bentuk-bentuk tekanan yang dialami oleh aktivis tidak hanya terbatas pada penggunaan alat hukum, tetapi juga meliputi intimidasi dan kekerasan fisik. Dalam situasi ini, insiden penyiraman air keras pada tahun 2026 merupakan salah satu contoh yang menunjukkan bahwa risiko yang dihadapi oleh aktivis menjadi semakin rumit dan tidak hanya terfokus pada aspek hukum semata. Keadaan ini tidak hanya mempengaruhi individu yang menjadi korban, tetapi juga menimbulkan rasa takut di ruang publik yang mendorong masyarakat untuk membatasi diri dalam menyatakan pendapat. Dalam rentang waktu yang lebih panjang, keadaan ini bisa mengurangi partisipasi masyarakat dan mengikis ruang kebebasan sipil, sehingga pengawasan terhadap kekuasaan menjadi kurang efektif. Apabila situasi ini berlanjut, maka demokrasi tidak hanya akan merosot secara prosedur, tetapi juga akan kehilangan inti pentingnya sebagai sistem yang menjamin kebebasan dan keterlibatan masyarakat. Oleh karena itu, hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa fenomena kriminalisasi dan kekerasan terhadap aktivis dapat dipahami sebagai salah satu gejala dari kemunduran demokrasi. Gejala itu tidak hanya nampak pada aspek kelembagaan, tetapi juga dari berkurangnya ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan pendapat secara bebas dan aman. Penelitian ini diharapkan mampu menyumbangkan pemahaman dalam memperluas studi mengenai keterkaitan antara perlindungan aktivis, kebebasan sipil, dan mutu demokrasi di Indonesia.

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

How to Cite
Safitri, N., Sadayi, D. P., Lestari, A. S., & Putra, A. W. (2026). Ketika Suara Dibungkam: Kriminalisasi dan Kekerasan terhadap Aktivis dalam Kemunduran Demokrasi Indonesia. ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 5(10), 6888–6897. https://doi.org/10.56799/jim.v5i10.18792
Section
Articles

References

Amnesty International. (2024). The state of the world's human rights 2023/24. Amnesty International.

Aspinall, E. (2010). Problems of democratisation in Indonesia: Elections, institutions and society. Institute of Southeast Asian Studies.

Aspinall, E., Fossati, D., Muhtadi, B., & Warburton, E. (2020). Elites, masses, and democratic decline in Indonesia. Democratization, 27(4), 505–526. https://doi.org/10.1080/13510347.2019.1680971

Berenschot, W. (2019). Democracy for sale: Elections, clientelism, and the state in Indonesia. Cornell University Press.

Bünte, M., & Ufen, A. (Eds.). (2009). Democratization in post-Suharto Indonesia. Routledge.

Carothers, T. (2002). The end of the transition paradigm. Journal of Democracy, 13(1), 5–21.

Carothers, T., & O'Donohue, A. (Eds.). (2019). Democracies divided: The global challenge of political polarization. Brookings Institution Press.

Crouch, H. (2010). Political reform in Indonesia after Soeharto. Institute of Southeast Asian Studies.

Dahl, R. A. (1989). Democracy and its critics. Yale University Press.

Diamond, L. (2015). Facing up to the democratic recession. Journal of Democracy, 26(1), 141–155.

Freedom House. (2024). Freedom in the world 2024: Indonesia. Freedom House.

Freedom House. (2024). Freedom on the net 2024: Indonesia. Freedom House.

Hadiz, V. R. (2017). Indonesia's year of democratic setbacks: Towards a new phase of deepening illiberalism? Bulletin of Indonesian Economic Studies, 53(3), 261–278.

Human Rights Watch. (2023). World report 2023. Human Rights Watch.

Human Rights Watch. (2024). World report 2024. Human Rights Watch.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. (2023). Laporan Tahunan Komnas HAM 2023. Komnas HAM.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. (2024). Laporan Tahunan Komnas HAM 2024. Komnas HAM.

Levitsky, S., & Way, L. A. (2010). Competitive authoritarianism: Hybrid regimes after the Cold War. Cambridge University Press.

Levitsky, S., & Ziblatt, D. (2018). How democracies die. Crown.

Lim, M. (2020). Freedom to hate: Social media, algorithmic enclaves, and the rise of tribal nationalism in Indonesia. Critical Asian Studies, 52(1), 34–48.

Linz, J. J., & Stepan, A. (1996). Problems of democratic transition and consolidation. Johns Hopkins University Press.

Mietzner, M. (2018). Fighting illiberalism with illiberalism: Islamist populism and democratic deconsolidation in Indonesia. Pacific Affairs, 91(2), 261–282.

Mietzner, M. (2020). Populist anti-scientism, religious polarization, and institutionalized corruption in Indonesia. Journal of Current Southeast Asian Affairs, 39(2), 227–249.

O'Donnell, G. (1994). Delegative democracy. Journal of Democracy, 5(1), 55–69.

Power, T. P., & Warburton, E. (Eds.). (2020). Democracy in Indonesia: From stagnation to regression? ISEAS–Yusof Ishak Institute.

Schmitter, P. C., & Karl, T. L. (1991). What democracy is... and is not. Journal of Democracy, 2(3), 75–88.

Tilly, C. (2007). Democracy. Cambridge University Press.

United Nations Human Rights Council. (2023). Report of the Special Rapporteur on the Situation of Human Rights Defenders. United Nations.

Warburton, E., & Aspinall, E. (2019). Explaining Indonesia's democratic regression: Structure, agency and popular opinion. Contemporary Southeast Asia, 41(2), 255–285.

Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia. (2023). Catatan Akhir Tahun 2023. YLBHI.

Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia. (2024). Catatan Akhir Tahun 2024. YLBHI.

Similar Articles

<< < 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.