Jaringan Ulama Al-Quran di Indonesia Analisis Periodesasi Penafsiran
Main Article Content
Abstract
Artikel ini membahas terkait dengan jaringan ulama Al-Qur’an di Indonesia yang memiliki titik tekan pada periodeisasi penafsiran dari abad 16 – 21 M. Berangkat hal tersebut maka rumusan yang akan di jawab pada artikel ini adalah bagaimana terbentuknya jaringan ulama Indonesia? Serta bagaimana jejaring guru, suumber dan kecenderungan ulama Al-Qur’an di Indonesia? Dari rumusan masalah di atas maka di dapat beberapa kesimpulan, pertama, jejaring terbentuknya ulama terbagi menjadi dua; 1) melalui Indonesia-hijaz, dan 2) melalui ashabul jawiyyin yang membentuk komonitas di hijaz. Kedua, periodeisasi penafsiran berdasarkan guru, sumber, dan kecenderungannya daat dibagi ke dalam tiga; 1) periode persemaian: abad ke 16-18, yang cenderung kepada awal terbentuknya jaringan ulama tafsir. 2) periode pemantanpan 19-20, yakni periode yang sudah mulai banyak para ulama Al-Qur’an belajar ke timur tengah utama hijaz, sehingga membentuk apa yang disebut ashabul jawiyyin. Dan 3) periode perkembangan dan kontekstual 20-21 yakni jejaring ulama yang tidak hanya terbatas pada hijaz akan tetapi meluas sampai ke Mesir dengan corak khasnya reformisArtikel ini membahas terkait dengan jaringan ulama Al-Qur’an di Indonesia yang memiliki titik tekan pada periodeisasi penafsiran dari abad 16 – 21 M. Berangkat hal tersebut maka rumusan yang akan di jawab pada artikel ini adalah bagaimana terbentuknya jaringan ulama Indonesia? Serta bagaimana jejaring guru, suumber dan kecenderungan ulama Al-Qur’an di Indonesia? Dari rumusan masalah di atas maka di dapat beberapa kesimpulan, pertama, jejaring terbentuknya ulama terbagi menjadi dua; 1) melalui Indonesia-hijaz, dan 2) melalui ashabul jawiyyin yang membentuk komonitas di hijaz. Kedua, periodeisasi penafsiran berdasarkan guru, sumber, dan kecenderungannya daat dibagi ke dalam tiga; 1) periode persemaian: abad ke 16-18, yang cenderung kepada awal terbentuknya jaringan ulama tafsir. 2) periode pemantanpan 19-20, yakni periode yang sudah mulai banyak para ulama Al-Qur’an belajar ke timur tengah utama hijaz, sehingga membentuk apa yang disebut ashabul jawiyyin. Dan 3) periode perkembangan dan kontekstual 20-21 yakni jejaring ulama yang tidak hanya terbatas pada hijaz akan tetapi meluas sampai ke Mesir dengan corak khasnya reformis
Downloads
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
References
Agus mahfudin Setiawan, Uswatun Hasanah, N. (2022). Jaringan Ulama: Penyebaran dan Pembaharuan Pendidikan Islam di Nusantara. Islamic Education, 2(2), 6–13. https://doi.org/https://doi.org/10.57251/ie.v2i2.380
Arifin, M. Z. (2018). Aspek Lokalitas Tafsir Fai al-Rahman Karya Muhammad Sholeh Darat. Maghza: Jurnal Ilmu Al-Qur’an Dan Tafsir, 3(1), 14–26. https://doi.org/https://doi.org/10.24090/maghza.v3i1.1951
Awwaliyyah, N. M. (2021). Studi Tafsir Nusantara: Tafsir al-Huda, Tafsir Qur’an Basa Jawa Karya Jend. Purn Drs. H. Bakri Syahid al-Yogjawy. Nun, 7(1), 119–139.
Azra, A. (2013). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad 17 & 18. Jakarta: Kencana.
Azwar, S. (2016). Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Fikru Jayyid Husein, N. I. (2023). Intertekstualitas Tafsir Maqasidi dalam Marah Labid dengan Mafatih al-Ghaib pada Ayat Ahkam. Al-Tahfizh: Jurnal Ilmu Al-Qur’an Dan Tafsir, 4(2), 34–55. https://doi.org/https://doi.org/10.53649/at-tahfidz.v4i2.244
Gadamer, H.-G. (2004). Truth and Method: Kebenaran dan Metode (terj. Ahma). Pustaka Pelajar.
Gusmian, I. (2013). Khazanah Tafsir Indonesia Dari Hermenutika hingga Ideologi. Yogyakarta: LkiS.
Has, M. H. (2016). Kontribusi Tafsir Nusantara untuk Dunia (Analisis Metodologi Tafsir al-Misbah Karya M. Quraish Shihab). Al-Munzir, 9(1), 69–79.
Igisani, R. (2018). Kajian Tafsir Mufassir di Indonesia. JPotret: Jurnal Penelitian Dan Pemikiran Islam, 22(1), 11–31. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.30984/pp.v22i1.757
Ilman, R. Z. (2019). Menjawab Kontroversi Tafsir Marah Labib Ke-Nusantara: Analisis Kritis Kitab Magnumopus Syaikh Nawawi al-Bantani. Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, 7(2), 299–339. https://doi.org/https://doi.org/10.21274/kontem.2019.7.2.299-336
Mudhoffir, A. M. (2013). Teori Kekuasaan Michel Foucault: Tantangan bagi Sosiologi Politik. MASYARAKAT: Jurnal Sosiologi, 18(1), 117–133. https://doi.org/10.7454/mjs.v18i1.3734
Munawan, M. (2018). Critical Discourse Analysis dalam Kajian Tafsir al-Qur’an: Studi Tafsir Al-Azhar Karya Hamka. TAJDID, 25(2), 153–170. https://doi.org/https://doi.org/10.36667/tajdid.v25i2.303
Mustaqim, A. (2010). Epistemologi Tafsir Kontemporer (F. Mustafid (ed.); I). LKiS.
Nurmansyah, I., & Sofia, A. (2021). Paralel, Transformasi dan Haplologi Tafsir Tujuh Surah Karya Muhammad Basiuni Imran Dengan Karya Tafsir Muhammad Rasyid Ridha: Kajian Intertekstualitas. Al-Bayan: Jurnal Studi Ilmu Al-Qur’an Dan Tafsir, 6(2), 66–82. https://doi.org/10.15575/al-bayan.v6i2.14685
Sholeh, M., Yusuff, S., Shahid, M., Mohd, A., & Othman, Y. (2020). Bacaan Intertekstual Terhadap Tafsir Nur Al-Ihsan : Kajian Menurut Kaedah Ekspansi ( Intertextual Reading on Tafsir Nur Al-Ihsan : A Study of the Expansion Method ). 2(2), 1–11.
Subhan. (2011). Metode Dan Corak Tafsir Abdul Rauf Al-Singkili.
Syahni, A. (2019). Mufassir dan Kitab Tafsir Nusantara (Tafsir. Fakultas Ushuluddin, 5(1), 33–51.
Syarifah, N. (2020). Tafsir Akademik Karya Mahmud Yunus: Corak Ilmiah, Sosial dan Intelektual dalam Tafsir al-Qur’an al-Karim. Jurnal At-Tibyan: Jurnal Ilmu Alqur’an Dan Tafsir, 5(1), 104–119.
Zutas, K. (2017). Literacy Tradition in Islamic Education in Colonial Period (Sheikh Nawawi al Bantani, Kiai Sholeh Darat, and KH Hasyim Asy’ari). Al-Hayat, 1(1), 17–31. https://alhayat.or.id/index.php/alhayat/article/view/2